BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA ABDUL MANAF Dosen PGMI STI Tarbiyah Al-Hilal Sigli Email: manaf_mada@yahoo.co.id

  ABSTRACT

Character is a behavior which is showed by a person in his environment either utterances, writing, performance or the way to expresshimself to face social character in daily life. So, character can be refered to the way of thinking and acting which is a typical in life and cooperating in family, society and nation. The qualified individual is one who can make decision and be responsible to consequence he already did. Furthermore, the character also means individuality, behavior,akhlak, or personality which is formed from internalization of various virtues and is believed and used as base to view, thought, act and behavior.

Keywords: Character, Nation, Culture

ABSTRAK

Karakter merupakan wujud prilaku yang ditampilkan oleh seseorang dalam lingkungan baik dalam bentuk ucapan verbal, kalimat tulisan, penampilan cara berpakaian, cara mengekspresikan diri dalam menghadapi situasi sosial  dalam kehidupan sehari-hari, jadi karakter dapat diartikan sebagai cara berpikir dan bertindak atau berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu dalam hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter  yaitu individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Selanjutnya karakter juga dimaknai sebagai watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kata Kunci: Karakter Bangsa, Budaya

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Berbicara tentang budaya dan karakter bangsa dalam suatu kerangka identitas kebangsaan  selalu menjadi tema yang menarik  dan dapat menyedot perhatian  dari  berbagai  kalangan. Mengapa demikian ?. Hal ini tidak lain karena karakter, budaya dan identitas kebangsaan menjadi simbol penting untuk mengatakan jati diri kita, kita berasal dari daerah mana, bagaimana berbeperilaku sehingga dapat diukur dengan nilai-nilai yang berlaku secara universal yang bernama kebaikan, kepantasan, bermoral, tidak bermoral, menyakiti atau tidak menyakiti orang lain, dan bahkan dirujukkan pada nilai nilai Hak Asasi Manusia yang diakui dunia (Mulia dan Ira D Aini, 2013).

Aktivitas keseharian yang dilakukan oleh seseorang dan perilaku yang ditampilkan dalam masyarakat, cara hidup berbangsa dan bernegara menjadi simbul budaya dan karakter bangsa. Sifat keramah tamahan, memberi senyuman yang tulus, melakukan tepuk tangan yang meriah pada suatu moment akan memberikan kesan tersendiri sehingga mencerminkan tepukan tangan yang dilakukan dengan penuh keiklhasan tanpa ada orang yang mengemandoi, perbuatan tolong menolong dalam keluarga dan masyarakat sebagai simbul kekompakan, menjaga nama baik diri dari perbuatan yang tercela, menghindari perbuatan melanggar hukum dalam bermasyarakat dan berbangsa, juga dalam pergaulan internasional, ini merupakan sebagai bagian dari nilai   budaya dan karakter bangsa yang perlu dipupuk dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan kemajuan zaman (Suswandari dan Toto Hastiarto, 2014).

Walaupun demikian, bila kita cermati terhadap kondisi sosial yng terjadi dilingkungan lembaga pendidikan formal dalam satu dekade ini, maka berbagai macam persoalan sosial yang telah terjadi dengan berbagai bentuk tindakan diluar dari tatakrama, budaya dan karakter bangsa sehingga menjadi benturan yang hebat dengan nilai dan norma yang berlaku secara universal dinegeri yang kita cintai ini, contoh tawuran yang dilakukan antar pelajar, beberapa literatur tentang penyelenggaran pendidikan formal di indonesia belum ditemukan bahwa tawuran  antar pelajar sudah terjadi di indonesia sejak berdirinya negeri ini, dan mungkin sudah menjadi tradisi dalam perjalan kehidupan pelajar di negeri ini, akan tetapi hal yang demikian itu terjadi dalam dua puluh terakhir ini. Dan tawuran antar pelajar yang terjadi dinegeri ini sudah merusak sendi-sendi kehidupan diri pelajar itu sendiri, orang tua, masyarakat dan bahkan sampai  menelan korban jiwa.

 Korban pisik dan korban jiwa bukan hanya diderita oleh pelaku tawuran saja, akan tetapi berdampak yang sangat luas dalam konteks sosial, menanamkan benih-benih dendam dalam diri korban sehingga terjadinya permusuhan yang berkelanjutan, lembaga pendidikan menjadi beban terutama para penyelenggara, karena dianggap gagal dalam melakukan pembinaan karakter peserta didik, negara menjadi beban tanggung jawab yang besar karena out came pendidikan tidak terbentuk etika, moral  secara baik.

  • Tujuan Pembahasan

Adapun tujuan pembahasan tentang pengembangan budaya dan karakter bangsa adalah: a).mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter; b).membiasakan peserta didik untuk berperilaku yang terpuji agar sejalan dengan dianut nilai-nilai universal yang religius dan menjadi tradisi budaya bangsa; c).menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;d). mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri,  kreatif,  berwawasan kebangsaan;  dan e).mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, kreatif dan inovatif, bersahabat, dan rasa kebangsaan yang tinggi.

PEMBAHASAN

Perilaku tidak terpuji tumbuh subur dikalangan pelajar bahkan dilingkungan kaum terpelajar sekalipun di negeri ini, ditingkat pelajar terjadi dalam lingungan sekolah dalam bentuk plagiat jawab ujian (nyontek), kalangan mahasiswa dan akademisi plagiat dalam membuat karya ilmiah dalam rangka menyelesaikan studi sarjana maupun kenaikan pangkat, dilingkungan birokrasi dan kalangan eksikutif, legislatif bahkan dilingkungan yudikatif melakukan penipuan dan korupsi, bahkan sampai penggunaan narkotika, belum lagi menyangkut dengan penyebaran fitnah memfitnah baik dikalangan masyarakat awam, pelajar, kaum terpelajar, bahkan pada tataran penyelenggara negara sekalipun sehingga timbulnya saling benci-membenci, terjadinya kompetisi yang tidak sehat dalam berbagai aspek kehidupan sosial.

Sifat keterbukaan yang keblablasan yang terjadi dalam masyarakat, menganut sisitem demokrasi yang tak menjaga nilai-nilai kemanusia dalam berbangsa dan bernegara, sehingga berdampak melahirkan prilaku-prilaku menyimpang, yang meliputi; seperti terjadinya tindakan korupsi dalam berbagai sendi kehidupan negara, peredaran narkoba yang tanpa terkendali, hasud dan dengki terus terjadi baik dalam kalangan penyelenggara negara, pihak masyarakat dan bahkan pada kelompok oposisi negara. Persoalan tersebut terjadi secara terstruktur, sistemik dan seolah- olah  tidak  ada  habisnya,  staf  melawan pimpinan, pimpinan menindas staf, antrian sedekah yang berujung pada saling mendesak dan jatuh korban, dan masih banyak lagi berbagai bentuk ekspresi kehidupan sosial  yang belum teratur.

Kondisi yang demikian mengingatkan kita pada ungkapan Mochtar Lubis dalam ceramahnya pada tahun 1977 tentang Manusia Indonesia dengan ciri ciri sebagai berikut ( Musdah Mulia dan Ira D Aini, 2013): a). Hipokrit atau  munafik  yaitu  orang yang berpura pura, jika berkata-kata berbohong, bila dipercaya berkhianat, bila berjanji mengingkari janji, atau lain dimuka  lain dibelakang  lain, b). Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusannya, pikirannya dan lain-lain, c). Jiwa feodal yang tampak pada faktanya dalam bentuk baru dalam diri masyarakat Indonesia,  d). Masih percaya takhayul atau  memuja  hal hal yang  dianggap  ghaib, e). Artistik dalam pengertian sikapnya yang memasang roh, sukma, tuah dan benda benda di sekelilingnya, e). Watak yang lemah atau karakter yang tidak kuat dalam mempertahankan sikap atau memperjuangkan keyakinannya,f).Cenderung boros.

Setelah kita mencermati berbagai fenomena sosial yang terjadi, maka Mochtar Lubis menyumbang saran pikiran untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dimasa sekarang dan pada masa yang akan datang dan harus dilakukan secara berkelanjutan. Dari permasalahan itu, sebenarnya kita perlu mmencermati terhadap apa yang terjadi, dan apa yang harus dilakukan oleh penyelenggara sekolah   sebagai lembaga pendidikan formal dengan kenyataan seperti ini.  Permasalahan ini perlu disikapi secara bijaksana dan dengan hati yang terbuka guna membangun karakter bangsa Indonesia menjadi lebih ba ik dimasa-masa yang akan datang.

Karakter merupakan wujud prilaku yang ditampilkan oleh seseorang dalam lingkungan baik dalam bentuk ucapan verbal, kalimat tulisan, penampilan cara berpakaian, cara mengekspresikan diri dalam menghadapi situasi sosial  dalam kehidupan sehari-hari, jadi karakter dapat diartikan sebagai cara berpikir dan bertindak atau berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu dalam hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter  yaitu individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat. Selanjutnya karakter juga dimaknai sebagai watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi sosial yang dibangun oleh individu dengan orang lain dalam menumbuhkan sifat karakter dalam bermasyarakat dan  karakter dalam berbangsa. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Aristoteles (dalam Lickona,  2012)  yang  menyatakan  bahwa; karakter  yang  baik  adalah  selalu  melakukan tindakan  yang  benar  sehubungan  dengan  diri  seseorang  dan  orang  lain.  Sementara  itu, Michael  Novak  (dalam  Lickona,  2012)  berpendapat bahwa; karakter  merupakan  campuran kompatibel dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana dan kumpulan orang  berakal sehat  yang ada dalam sejarah. Lebih lanjut Thomas Lickona (2012) menjelaskan bahwa karakter yang baik memiliki tiga bagian yang saling berhubungan, yaitu pengetahuan moral, perasaan moral dan perilaku moral.

Pendidikan berfungsi sebagai lembaga pengalihan budaya dan karakter kepada peserta didik yang merupakan generasi bangsa, meliputi: a). Fungsi pengembangan: lembaga pendidikan berfungsi melakukan pengembangan potensi bagi peserta didik, dimana setiap anak mempunyai potensi-potensi yang berbeda-beda, jadi pada lembaga pendidikan dilakukan pengalian dan pengembangan potensi bagi peserta didik yang telah memiliki  sikap  dan  perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa untuk menjadi pribadi berperilaku baik;  b) fungsi perbaikan: dimana fungsi ini merupakan fungsi memperbaiki pada hal-hal yang sudah rusak atak ubahnya seperti fungsi reperasi pada perbengkelan, dalam dunia pendidikan juga ada generasi yang sudah rusak, maka diperlukan benkel memperbaiki sel-sel pada organ yang rusak, biasanya perbaikan dilakukan susuai dengan hasil diagnosis yang ditemukan, hasil diagnosis secara umum ditemukan rendahnya rasa hormat, rendahnya tanggung jawab, lemahnya kepedulian dalam kehidupan sosial, sifat ke-egoan yang terlalu tinggi, untuk memperbaiki sendi dan sel-sel serta organ yang rusak itu, sekolah menyiapkan guru-guru sesuai dengan kompetensinya masing-masing, karena guru merupakan pilar yang terdepan disekolah yang memperkuat sendi-sendiri yang sudah renggang, memberikan obat-obat untuk memperbaiki sel dan organ yang sudah rusak, seperti hilangnya rasa kebersamaan dalam pergaulan di sekolah, rendahnya tanggung  jawab dikalangan sisiwa, dan contoh-contoh kasusu lainnya, maka guru sebagai pendidik, pengayom, pembina dalam melakukan pengembangan potensi peserta didik diperlukan kemampuan lebih, tenaga lebih, waktu yang lebih, pikiran yang lebih untuk menata kembali murid atau sisiwa yang rusak agar menjadi manusia yang berkualitas dan lebih bermartabat; dan c). fungsi penyaring: fungsi ini lebih bersifat preventive, yaitu lembaga pendidikanberfungsi sebagai menyaring, terutama masuknya budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, dan akan berakulturasi dan bahkan terjadinya asimilisi yang sehingga budaya asli sebagai budaya dasar bangsa yang mempunyai nilai-nilai yang tinggi secara bertahap hilang dengan tanpa sadar, maka lembaga pendidikan berfungsi sebagai lembaga sensor dimana melakukan penyeleksian yang mempunyai kesesuan dengan situasi kehidupan sosial masyarakat pribumi dapat diterima sedangkan yang membuat hilangnya budaya yang bermartabat di tolak.

KESIMPULAN

Indonesia adalah bangsa besar yang dibangun dengan perjuangan rakyat Indonesia secara menyeluruh, penuh dengan pengorbanan, harta, tenaga, nyawa dan darah, yang secara giografis indonesia letak pada garis khatulistiwa, yang tanahnya subur, yang didiammi oleh jutaan penduduknya, dengan berbagai ragam macam suku, bahasa, adat dan budaya, akan tetapi menjadi sebuah kesatuan dibawah kebhinekaan. Situasi sosial kehidupan masyarakat indonesia yang ramah, murah senyum mudah diajak berteman, hidup dengan peradaban dan ini sudah menjadi tradisi dalam hidup berbangsa di Indonesia.

Tradisi ini sudah mulai luntur dan bergeser dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, ini banyak faktor yang memengarufi dan menggorotai peradan bangsa ini, antara lain masukknya budaya luar secara bebas, tanpa disadari berlakunya sistem demokrasi liberal, lebih-lebih kamajuan teknologi informasi secara pesat, semua permasalahan harus dibahas dan pengkajian secara terbuka, bebas tanpa pengecualian, misalnya maslah kelaurga, maslah personal, sampai masalah keuangan di tuntut secara terbuka, sehingga terbangunnya kecemburuan sosial yang tidak dapat terkendali, fitnah memfitnah terjadi secara sistemik, rasa dendam dikalangan manusia terbangun secara subur, dan hal tersebut sangat berpengaruh terhadap budaya dan karakter bangsa.  Tulisan ini penulis buat dalam rangka memenuhi salah satu syarakat pada mata kuliah Pengembangan Teori Sosial, Budaya dan Humaniora.

DAFTAR PUSTAKA

Barth, Fredrik. (1988). Ethnic Groups and Boundaries. Alih Bahasa: nining L Susilo.

Artikel  Penelitian Ilmiah. FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

Giddens, Anthony. ( 2002 ). ―  The Third Way The Renewal of Social Democracy. Alih Bahasa : Ketut Arya Mahardika .  Jalan Ketiga: Pembaruan Demokrasi Sosial . Jakarta: PT SUN

Harrison E Lawrence and Samuel P Huntington. (2000). Culture Matters : How Values Shape Human Progress. New York :  Basic Book.

Hefner, Robert W. (2007). Politik Multikulturalisme. Yogyakarta: Kanisius.

Lickona, Thomas. (2012). Educating For Character : How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. Alih bahasa. Juma Abdu Wamaungo. Mendidik Untuk Membentuk Karakter; bagaimana Sekolah dapat memberikan Pendidikan Tentang Sikap Hormat dan Tanggung Jawab. Jakarta: Bumi Aksara.

Magdalia, Alfian. (2013). Potensi Kearifan Lokal dalam Pembentukan jati diri dan karakter Bangsa. Prosiding International Cofference on Indonesian Studies. CSIS. Jogjakarta. Musdah Mulia, Siti dan Ira D Aini. (2013). Karakter manusia Indonesia: butir Butir Pendidikan karakter Untuk  Generasi Muda. Bandung: Nuasa Cendekia.

Nur Barlian, VA (2012). Identifikasi faktor Faktor Budaya Yang memengaruhi Capaian Kinerja Pembangunan Pendidikan. Jurnal Kebudayaan. Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan. Kemendikbud.

Ridho  Bayu  Yeffrerson.  (2013).  Pengembangan  Nilai-Nilai  Integrasi  sosial  Berbasis Kearifan  Lokal  Minangkabau  dalam  Pendidikan  Karakter  melalui  Pembelajaran IPS. Tesis. PIPs Pasca sarjana UPI.

Said Hamid Hasan dkk. (2010). Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya Untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Pengembangan pendidikan dan Karakter Bangsa. Kementrian Pendidikan Nasional. Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

Dosen PGMI STI Tarbiyah Al-Hilal Sigli

Email: manaf_mada@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan