STRATEGI MENGAJAR DAN BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

Oleh: Ridhwan,S.Ag. M.Pd

ABSTRAK

Perguruan tinggi harus mengembankan pembelajaran bagi para dosen dengan cara menyegarkan kembali prinsip pembelajaran agar proses pembelajaran menjadi lebih kreatif, inovatif dan menyenangkan bagi kedua belah pihak (dosen dan mahasiswa).

Dosen harus dapat menciptakan situasi dan kondisi agar mahasiswa dapat memproses informasi dengan lebih mudah dan cepat dipahami sekaligus melekat dalam ingatan mereka. Di sinilah dosen harus memperkenalkan berbagai strategi belajar dan mengajar kepada mahasiswa. . Perlu ada komunikasi yang baik antara dosen dengan mahasiswa, sehingga tercipta suasana dialogis secara bebas yanag dapat merangsang semangat belajar mahasiswa. Dalam perkuliahan, dosen harus berperan sebagai teladan dan motivator bagi peserta didik, menjadi agen pengembangan pengetahuan, dan perubahan serta mampu mengarahkan mahasiswa. memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar.

  1. PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan proses pendewasaan diri seseorang. Melalui pendidikan akan tercipta perubahan tingkah laku dari seseorang yaitu dari yang sebelumnya tidak tahu dan mengerti tentang sesuatu hal. Menurut Undang – undang No.12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dinyatakan bahwa “pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik ( mahasiswa ) secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Berdasarkan pengertian di atas, maka pendidikan formal sangat penting bagi setiap orang agar setiap individu dapat mengembangkan potensi dirinya dan kelak akan berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara.

Untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan tersebut, manusia memasuki dunia pendidikan formal melalui proses belajar akan  muncul pengaruh yang dapat membawa perubahan sikap atas diri seseorang kearah yang lebih maju. Dalam melaksanakan proses pembelajaran maka dibutuhkan partisipasi dari berbagai pihak karena keberhasilan dari suatu proses pendidikan tidak hanya tergantung pada pendidik maupun peserta didik itu sendiri, tetapi biasa juga dari factor luar lainnya.  Selain itu juga tujuan dari proses belajar mengajar adalah adanya perubahan tingkah laku baik aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap (afektif), maupun aspek psikomotorik. Salah satu perubahan aspek kognitif mahasiswa dapat dilihat dari indeks prestasi yang diperoleh. Indeks prestasi dijadikan sebagai tolok ukur penguasaan akademik mahasiswa. Semakin baik penguasaan akademik mahasiswa maka prestasi yang diperoleh pun akan baik pula.

Menurut Gagne dan Briggs[1]  mengartikan pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar mahasiswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar mahasiswa yang bersifat internal.

Proses belajar dari dalam diri peserta didik ( mahasiswa ) itu sendiri sangat dibutuhkan untuk terus menggali dan suka belajar. Oleh karena hal itulah, pembelajaran yang berfokus pada peserta didik (mahasiwa) yang menekankan pada prestasi belajar, kebutuhan dan kemampuan individu peserta didik (mahasiswa), menjanjikan model belajar, yang baik dan kompeten untuk dapat mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan masyarakat, seperti kreativitas, kepemimpinan, rasa percaya diri, kemandirian, kedisiplinan, kekritisan dalam berpikir, kemampuan berkomunikasi, dan bekerja dalam tim serta wawasan global untuk dapat selalu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan zaman.

Sementara Nur Syam mengemukakan, pengembangan profesi dosen meliputi empat kompetensi, yaitu:

  1. Kompetensi pedagogis atau kemampuan dosen mengelola pembelajaran
  2. Kompetensi kepribadian atau standar kewibawaan, kedewasaan, dan keteladanan
  3. Kompetensi profesional atau kemampuan dosen untuk menguasai content dan metodologi pembelajaran
  4. Kompetensi sosial atau kemampuan dosen untuk melakukan komunikasi sosial, baik dengan mahasiswa maupun masyarakat luas[2].

Perguruan tinggi harus mengembankan pembelajaran bagi para dosen dengan cara menyegarkan kembali prinsip pembelajaran agar proses pembelajaran menjadi lebih kreatif, inovatif dan menyenangkan bagi kedua belah pihak (dosen dan mahasiswa)[3]. Korelasi antara dosen dan mahasiswa yang dimaksud, agar mahasiswa aktif dan mau berpartisipasi dalam proses pembelajaran untuk mencapai prestasinya, dalam arti mahasiswa bukan aktif hanya sekedar mengerjakan tugas semata tetapi turut serta berpartisipasi dalam proses perkuliahan.

Fakta-fakta tersebut menyatakan bahwa sudah saatnya proses belajar mengajar beralih pada penekankan pada keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu peserta didik. Dalam kaitannya dengan prestasi belajar peserta didik, keinginan belajar merupakan hal yang penting dalam proses belajar, karena belajar dengan keinginan akan mendorong mahasiswa untuk belajar lebih baik daripada belajar tanpa keinginan.

  • Kompetensi Pedagogis Dosen

Kompetensi pedagogis atau kemampuan dosen mengelola pembelajaran merupakan tulang punggung keberhasilan proses pendidikan di perguruan tinggi. Kompetensi pedagogis ini terkait dengan cara mengajar yang baik dan tepat, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Seorang dosen, selain harus memiliki kepakaran di bidang keilmuannya, juga harus menguasai teori-teori dan teknik pengajaran serta aplikasinya dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Sebab itu, peningkatan kemampuan di bidang ini merupakan hal utama dalam pengembangan profesionalisme dosen.

Ada 10 dasar kompetensi dosen yang harus di miliki oleh dosen/guru sebagai syarat menjadi dosen yang profesional[4] yaitu :

  1. Menguasai bahan (mata kuliah yang diajarkan)
  2. Mengelola program belajar mengajar (dari persiapan perangkat mengajar sampai melaksanakan program belajar mengajar)
  3. Mengelola kelas (mengatur tata ruang kelas dan menciptakan iklim belajar mengajar yang sesuai)
  4. MenggunakanMedia/sumber belajar (mengenal, memilih dan menggunakan media yang bervariatif, membuat alat-alat bantu pelajaran yang sederhana, menggunakan dan mengelola laboratorium,perpustakaan,dan micro-teaching yang disesuaikan dengan bidang studi yang diajarkannya)
  5. Menguasai landasan-landasan kependidikan
  6. Mengelola interaksi belajar-mengajar
  7. Menilai prestasi mahasiswa untuk kepentingan pembelajaran
  8. Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan
  9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
  10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pembelajaran.

            Setiap dosen memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda tentang hakekat mengajar, setidaknya ada beberapa cara para dosen dalam melaksanakan perannya di Perguruan tinggi[5]. Setiap cara itu memiliki implikasi terhadap bagaimana seharusnya mahasiswa belajar dan bagaimana seharusnya dosen mengajar.

1. Mengajar adalah Menyampaikan

Sebagian besar dosen, baik secara eksplisit maupun implisit, mendefinisikan tugas mengajar adalah menyampaikan materi yang otoritatif atau mendemonstrasikan prosedur-prosedur. Pengetahuan yang akan disampaikan kepada mahasiswa pada tingkat ini dipandang sebagai sesuatu yang tidak problematik, berlawanan dengan pengetahuan yang dibangun di dalam dunia penelitian dan kajian yang lebih tinggi, seperti S2 atau S3.

Beberapa penelitian bahkan memperkuat definisi fungsi-fungsi kunci pendidikan tinggi dari segi penyampaian budaya dan pengajaran keterampilan. Metode pengajaran tradisional merupakan representasi terbesar dari sebuah pandangan tentang mengajar yang diambil dari anggapan bahwa dosen adalah sumber informasi yang tidak terdistorsi, sedangkan mahasiswa adalah penerima yang pasif dari kearifan seorang pembicara tunggal[6].

Dosen yang konsisten dengan teori mengajar seperti itu akan menumpahkan kegagalan belajar kepada mahasiswa. Dosen-dosen tersebut mengaktualisasikan hubungan antara apa yang dilakukan oleh mahasiswa sebagai sesuatu yang secara instrinsik tidak bermasalah, satu model input-output yang bekerja secara tersembunyi. Teori mereka itu tidak dapat secara tepat menjelaskan mengapa mahasiswa tidak belajar apapun setelah proses pembelajaran berlangsung.

Ada juga anggapan para dosen yang percaya terhadap keberadaan mahasiswa pintar dan mahasiswa lemah, yang menganggap bahwa kualitas belajar mahasiswa ditentukan oleh kemampuan dan kepribadian tidak bias diubah melalui pengajaran. Mahasiswa yang lemah disebabkan oleh kemalasan dan ketidakmampuan untuk menyerap materi baru, dan lemahnya persiapan pada awal pendidikan. Teori ini secara tidak langsung mengatakan bahwa semua masalah belajar berasal dari luar dosen, program studi atau universitas. Meningkatkan standard masuk perguruan tinggi merupakan solusi terhadap masalah lemahnya mahasiswa.

2. Mengajar adalah Mengorganisir Aktifitas Mahasiswa

Dalam teori ini fokus perhatian bergeser dari dosen ke mahasiswa. Mengajar dipandang sebagai pengawasan(supervise), proses yang melibatkan artikulasi teknik-teknik yang didesain untuk menjamin mahasiswa belajar. Penguasaan materi yang otoritatif, yang begitu penting pada teori pertama, hanya menjadi latar belakang (background).

Menurut teori ini mengajar tidak lagi hanya berkaitan dengan penyampaian materi. Mengajar juga menyangkut mahasiswa. Yang terutama, mengajar adalah membuat mahasiswa sibuk menggunakan seperangkat prosedur yang efisien. Dosen sering mengeluh karena mereka merasa kurang memiliki keterampilan untuk membantu mahasiswa lebih mampu dalam menguasai berbagai skill yang dipersyaratkan. Tetapi pada saat yang sama mereka menginginkan seperangkat metode yang aman dan teruji. Meningkatnya mutu pengajaran menurut pandangan ini adalah menambah daftar strategi mengajar, bukan mengubah cara pandang dan pemahaman dosennya. Mempelajari teknik mengajar, menurut teori tersebut, merupakan dasar yang cukup untuk meningkatkan pengajaran.

3. Mengajar berarti Membuat Mahasiswa Belajar

Teori berikut ini melihat bahwa mengajar dan belajar sebagai dua sisi yang tidak terpisahkan dari sebuah koin. Mengajar, mahasiswa, dan materi yang akan dipelajari terkait satu dengan yang lain oleh sebuah system. Mengajar dipahami sebagai sebuah proses kerjasama dengan mahasiswa untuk membantu mengubah pemahaman mereka. Dengan kata lain, mengajar adalah membantu mahasiswa belajar. Mengajar menyangkut upaya menemukan kesalahpahaman mahasiswa,  mendorong perubahan, dan menciptakan situasi atau konteks belajar yang dapat mendorong mahasiswa agar secara aktif bergelut dengan materi perkuliahan. Teori ini sangat peduli dengan materi yang harus dipelajari oleh mahasiswa dan hubungannya dengan bagaimana seharusnya materi tersebut diajarkan. Materi yang diajarkan dengan masalah yang dihadapi mahasiswa dalam mempelajari materi tersebut menentukan metode pengajaran yang akan digunakan.

Peran dosen menurut teori ini sangat berbeda dengan kedua teori sebelumnya. Pengetahuan materi perkuliahan secara aktif dibentuk dan dibangun oleh mahasiswa sendiri. Belajar adalah sesuatu yang dilakukan mahasiswa, bukan sesuatu yang dilakukan untuk mahasiswa. Mengajar bukanlah masalah hasil yang diketahui di otak, melainkan bagaimana membuat mahasiswa berpartisipasi dalam proses yang memungkinkan berdirinya sebuah bangunan pengetahuan. Kita mengajar bukan membuat perpustakaan hidup, tetapi untuk membuat mahasiswa berpikir secara sistematis, untuk berpikir sebagaimana seorang sejarawan, membuat terlibat dalam proses perolehan pengetahuan.

4. Belajar Aktif

Mel Silberman[7] mengawali tulisannya dengan mengutip kata-kata bijak konfusius, seorang filosof Cina yang hidup lebih dari 2400 tahun yang lalu:

“ Apa yang saya dengar saya lupa.

Apa yang saya lihat saya ingat.

Apa yang saya kerjakan saya faham.

Ungkapan filosof itu dikembangkannya menjadi apa yang disebut dengan Active Learning Credor.

“ Apa yang saya dengar saya lupa.

Apa yang saya dengar dan lihat saya ingat sedikit.

Apa yang saya dengar, lihat dan saya tanyakan atau diskusikan, saya mulai paham.

Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan saya kerjakan, saya peroleh pengetahuan dan keterampilan.

Apa yang saya ajarkan kepada orang lain saya kuasai”.

Secara implisit, Mel Silberman ingin menunjukkan bahwa belajar lebih bermakna dan bermanfaat apabila mahasiswa menggunakan semua alat indera, mulai telinga, mata, sekaligus berfikir mengolah informasi dan ditambah dengan mengerjakan sesuatu. Dengan mendengarkan saja, kita tidak dapat mengingat banyak dan akan mudah lupa.

Untuk lebih memahami bagaiman cara mahasiswa menyerap informasi dengan lebih mudah, para ahli pendidikan telah memperkenalkan tiga bentuk cara mudah seseorang dalam menyerap informasi atau modalitas, yakni : visual, auditorial, dan kinestetik. Meskipun sebagian besar orang memiliki potensi untuk memberdayakan ketiga modalitas tersebut. Menurut Blender dan Grinder, hampir setiap orang memiliki kecenderungan utama terhadap salah satu modalitas belajar yang berperan sebagai filter dalam pembelajaran dan pemrosesan komunikasi. Meskipun demikian, setiap orang dapat memanfaatkan kombinasi modalitas tertentu yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang bersifat ilmiah.

5. Cara Kerja Otak

Bagaimana sebenarnya cara otak mengolah informasi yang diterima? Menurut pandangan mutakhir tentang pengolahan informasi kognitif, otak manusia dianggap sebagai sebuah prosessor informasi yang sama dengan komputer. Ketika terjadi proses belajar, informasi adalah input dari lungkungan yang diproses dan disimpan dalam ingatan serta output dalam bentuk beberapa kemampuan yang dipelajari.

Proses pengolahan informasi diawali dengan adanya stimulus dari lingkungan luar yang diterima melalui alat-alat indera dalam bentuk cahaya, gambar, bunyi, suhu, tekanan dan lain-lain. Agar diproses melalui system pengolahan informasi, stimulus tersebut harus mendapatkan respon terarah, satu respons yang memfokuskan perhatian kita kepada stimulus tersebut. Inilah awal dari proses internal. Respon terarah tersebut menimbulkan minat dan membuat kita ingin lebih mengetahui stimulus tersebut.

6. Gaya Belajar

Para pendidik, termasuk dosen, hampir dipastikan menyadari bahwa para mahasiswanya memiliki gaya belajar yang berbeda. Istilah gaya belajar (learning style) yang dimaksud adalah karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan memikirkan informasi tersebut. Sebagaian mahasiswa lebih senang belajar sendirian, sementara yang lain suka belajar secara berkelompok. Sebagian mahasiswa suka memperolaeh informasi dengan membaca, sebagian lebih suka mendapatkan informasi lewat berbagai aktifitas. Tidak ada satupun gaya belajar yang lebih baik dari yang lain, dan tidak ada satupun gaya belajar yang mendorong uantuk belajar lebih baik. Tetapi semua disesuaikan dengan situasi, materi, tujuan yang hendak dicapai. Masalahnya strategi mungkin cocok untuk satu situasi/materi tertentu, akan tetapi tidak cocok untuk situasi yang berbeda.

Bagi seorang dosen, memahami gaya belajar sangat bermanfaat, paling tidak karena tiga alasan. Pertama, mengetahui gaya belajar mahasiswa dapat membentu dosen mengerti perbedaan yang ada di kalangan mahasiswa. kedua, dosen mungkin ingin mengembangkan berbagai strategi mengajar untuk membangun kelebihan individual yang berbeda yang dimiliki oleh mahasiswa. ketiga, mengetahui perbedaan mahasiswa dapat membantu dosen mengembangkan strategi belajar mahasiswa.

Kolb mengidentifikasi ada empat gaya belajar berikut ini :

a. Convergers : mahasiswa yang mengandalkan konseptualisasi abstrak dan eksperimentasi aktif; mereka suka menenukan jawaban konkret dan bergerak dengan cepat untuk menemukan pemecahan masalah; mereka baik sekali dalam mengidentifikasi masalah dan membuat keputusan; mereka tidak emosional; mereka lebih senang bekerja dengan ide-ide dari pada bekerja dengan orang lain.

b. Divergers : mahasiswa menggunakan pengalaman konkret dan pengamatan reflektif untuk memunculkan gagasan-gagasan ; mereka bagus dalam brainstorming dan membuat alternative, mereka paling senang berinteraksi dengan orang lain.

c. Assimilators: mahasiswa yang mengandalkan konseptualisasi abstrak dan pengamatan reflektif; mereka senang mengasimilasikan berbagai informasi dan menyusunnya kembali dengan logika yang tepat; mereka bagus dalam membuat perencanaan, mengembangkan teori, dan menciptakan model, tetapi kurang tertarik dalam mengaplikasikan teori dalam kehidupan nyata; mereka belajar dengan baik dengan membaca, mendengarkan, mengamati, dan merenungkan informasi yang diperoleh.

d. Accomodators: mahasiswa yang belajar dengan baik dengan menggunakan pengalaman konkrit dan eksperimentasi aktif, mereka suka menggunakan strategi trial and error dari pada instruksinya terlebih dahulu, atau intuisi untuk memecahkan masalah, mereka cenderung mengambil resiko dan masuk ke dalam masalah tersebut, mereka pandai menyesuaikan diri dengan situasi baru.

Dalam aktifitas kelas mahasiswa konvergers, cenderung lebih menyukai menyelesaikan masalah dengan jawaban pasti. Mahasiswa divergers, cenderung memperoleh keuntungan lebih dari kelompok diskusi dan mengerjakan proyek secara kolaboratif. Mahasiswa assimilators, cenderung akan merasa sangat nyaman mengamati, memperhatikan role play (bermain peran) dna simulasi di adalam kelas serta menciptakan konsep. Mahasiswa accommodators, cenderung lebih senang beraktifitas dan mereka akan menjadi pemain yang terbaik dalam role play, kerja kelompok, simulasi, dan kunjungan lapangan.

7. Strategi Pembelajaran

Setelah memahami bagaimana cara kerja otak mengolah dan menyimpan informasi serta mengenal berbagai tipe atau gaya belajar mahasiswa, langkah selanjutnya adalah memilih strategi yang tepat baik disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa, materi yang diajarkan, maupun dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Salah satu tugas dosen ketika mempersiapkan perkuliahan adalah memikirkan bagaimana agar mahasiswa dapat memproses informasi yang disampaikan dan bagaimana agar dosen dapat mengaitkan informasi dengan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh mahasiswa. Dosen harus dapat menciptakan situasi dan kondisi agar mahasiswa dapat memproses informasi dengan lebih mudah dan cepat dipahami sekaligus melekat dalam ingatan mereka. Di sinilah dosen harus memperkenalkan berbagai strategi belajar dan mengajar kepada mahasiswa.

Aspek pengajaran yang paling penting adalah pemberian pengalaman kepada mahasiswa, tentu saja harus dimulai dengan pemahaman terhadap tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Kemudian harus diikuti dengan pemilihan materi yang tepat, penentuan strtegi pembelajaran yang sesui dan penggunaan alat evaluasi yang betul. Namun semua itu, mulai dari tujuan, materi, strategi dan evaluasi sangat terkait, bahkan menjadi satu rangkaian yang harus dipersiapkan di awal pembelajaran.

Perencanaan pada dasarnya merupakan usaha yang terorganisir dan terus menerus dilakukan dalam upaya mencapai tujuan, dan untuk menyusun perencanaan yang baik perlu memperhatikan tahapan-tahapan yang sistematis dan rasional. Menurut Usman[8]  perencanaan bertujuan untuk :

  1. Standar pengawasan, yaitu mencocokkan pelaksanaan dengan perencanaannya.
  2. Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan.
  3. Mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik kualifikasinya maupun kuantitasnya.
  4. Mendapat kegiatan yang sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan.
  5. Meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga, dan waktu.
  6. Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan.
  7. Menyerasikan dan memadukan beberapa sub kegiatan.
  8. Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui, dan
  9. Mengarahkan pada pencapaian tujuan.

Perencanaan dapat dianggap sebagai suatu upaya dalam mempersiapkan tindakan-tindakan masa yang akan datang dengan cara membuat keputusan pada masa sekarang.Proses pembelajaran perlu direncanakan agar dalam pelaksanaannya berlangsung dengan baik dan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Setiap perencanaan selalu berkenaan dengan pemikiran tentang apa yang akan dilakukan. Perencanaan merupakan upaya untuk merumuskan apa yang ingin dicapai serta bagaimana sesuatu yang ingin dicapai tersebut dapat terlaksana melalui rumusan rencana kegiatan.

Untuk bias mengajar dengan baik, dosen harus mempersiapkan materi dengan cara mencari silaby dari mata kuliah yang akan diajarkan, kemudian membuat course outline atau SAP (Satuan Acara Perkuliahan) dengan mempertimbangkan waktu yang tersedia. Selanjutnya menentukan strategi yang tepat untuk penyampaian materi tersebut dengan menyiapkan segala sarana dan pra sarana yang diperlukan. Dalam penyampaian materi tersebut, kita harus memiliki antusiasme yang tinggi, artinya penuh semangat sehingga bias menumbuhkan kesadaran mahasiswa bahwa belajar itu penting, untuk itu dosen harus memiliki kompetensi akademik, kepribadian dan social.

Dalam perkuliahan, dosen harus berperan sebagai teladan dan motivator bagi peserta didik, menjadi agen pengembangan pengetahuan, dan perubahan serta mampu mengarahkan mahasiswa. Selain menjadi pentransfer ilmu, dia juga harus mampu memberikan wawasan tentang perkulihan yang akan disampaikan; menjadi mediator, fasilitator, dan sekaligus dinamisator bagi mahasiswanya agar mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar.

Peran yang harus dilakukan oleh mahasiswa dalam kegiatan belajar menagjar adalah denga aktif mencari materi-materi yanag sesuai dengan topik-topik perkuliahan. Karena dengan mengikuti perkuliahan dia harus mempunyai bekal atau persiapan untuk didiskusikan di kelas. Dengan demikian, dia harus memiliki kemandirian tidak selalu bergantung pada dosen. Karena yang didapat dari dosen itu sebenarnya hanyalah sebagian kecil saja dari ilmu pengetahuan yang dia peroleh

Agar iklim perkuliahan berjalan secara kondusif, maka performance dosen harus baik, penguasaan materi baik dan adanya pemilihan strategi perkulaian yang tepat. Perkuliahan harus dilaksanakan dalam suasana penuh keakraban namun tetap menjaga nilai-nilai akademis. Untuk itu perlu ada komunikasi yang baik antara dosen dengan mahasiswa, sehingga tercipta suasana dialogis secara bebas yanag dapat merangsang semangat belajar mahasiswa. Dalam rangka menciptakan iklim seperti itu maka perlu ada upaya motivasional untuk menarik perhatian mahasiswa sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik. Di akhir perkuliahan harus ada latihan-latihan atau tugas agar yang kita sampaikan itu dapat dikuasai oleh mahasiswa. Namun perlu diusahakan dosen memiliki banyak humor, sehingga suasana tidak tegang.


[1] Dalam Zaini, Hisyam. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga, 2002, hal. 23

[2] Nur Syam, “Standardisasi Dosen Perguruan Tinggi”, dalam http://nursyam.sunan-ampel.ac

[3] Lihat, Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum KTSP dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta, Rajawali Pers, 2010, Hal. 289

[4] Nasir Usman, Manajemen Peningkatan Mutu Kinerja Guru (konsep,Tiori dan Model), Bandung, Cita Pustaka, hal. 74

[5]Zaini, Hisyam. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga, 2002, hal.87

[6] dhttp://ululazmi-zabaz.blogspot.com/2012/03/komitmen-dosen-profesional.html

[7] Dalam Djamarah ,Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta, Reneka Cipta, 2010, hal.368

[8] Usman, Husaini, Manajemen: Teori, Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara, 2010, hal.65

Tinggalkan Balasan