AKHLAK MAHASISWA DI KAMPUS DALAM PERSEKTIF AGAMA ISLAM

Bukhari

STIT PTI. Al- Hilal Sigli

Jl. Lingkar Keuniree, Sigli Pidie

Email: bukhari367@yahoo.co.id

ABSTRACT

In this study, the authors intend to explain how to instruct students on the campus in the lives of globalization, in order to really understand about the morality that must be possessed and able to respect others. Students prior to entry into the room, saying Assalam muailakum familiarize and greet lecturer / educator. At the time lecturer explains his courses, students listening and asking questions with polite and courteous language. Habits-habits that they do not only apply to the campus, but has been applied in social life.

ABSTRAK

Dalam kajian ini, penulis bermaksud memaparkan cara mengarahkan mahasiswa di kampus dalam kehidupan globalisasi, agar benar-benar memahami tentang akhlak yang harus dimiliki serta mampu menghargai sesama. Mahasiswa sebelum masuk kedalam ruangan, membiasakan mengucapkan assalam muailakum serta menyapa dosen/ pendidik. Pada saat dosen menerangkan mata kuliahnya, mahasiswa mendengar dan bertanya dengan bahasa santun dan sopan. Kebiasaan-kebiasan yang mereka lakukan bukan hanya diterapkan dikampus, akan tetapi sudah diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kata kunci: Akhlak, Mahasiswa, Dosen.

A. Pendahuluan

Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi akhlak yang mulia.[1] Dalam salah satu keterangan haditsnya dengan tegas Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa tujuan utama beliau diutus kepada umat manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak yang terpuji. Dari sini bisa dimengerti bahwa akhlak yang mulia merupakan sebuah misi kerasulan yang sangat suci dan abadi.

Akhlak merupakan sesuatu yang sangat penting bagi umat Islam, karena diutusnya Rasulullah saw di muka bumi ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan umatnya, dan salah satu akhlak yang terbaik adalah akhlak Rasulullah, karena Al Qur’an adalah salah satu cerminan akhlak Rasulullah saw. Jadi kita sebagai umat Islam sangat dianjurkan untuk berakhlak sesuai apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta generasi penerusnya, berdasarkan pemahaman yang lurus/ benar. Baik di lingkungan masyarakat, keluarga, dan kampus. Mengingat dewasa ini telah terjadi krisis moral umat manusia yang sepertinya tidak enggan lagi melakukan perbuatan/ perilaku dan penampilan yang tidak mencerminkan akhlak terpuji, khususnya akhlak di kampus. Oleh sebab itu, diperlukan pemahaman-pemahaman akhlak di kampus menurut agama Islam yang bertujuan untuk membentengi atau langkah pencegahan mahasiswa/ mahasiswi Islam agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan atau penampilan yang tidak mencerminkan akhlakul karimah.                                         

B.  Pengertian Akhlak dan Mahasiswa

1. Akhlak

Secara etimologi kata akhlak berasal dari bahasa Arab Akhlaq atau Khuluq. Kata Khuluq mempunyai bermacam-macam arti, tergantung pada mashdar yang digunakan. Dalam bahasan kali ini diartikan sebagai budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at. Oleh karena itu, Al khuluq itu sifatnya diciptakan oleh si pelaku itu sendiri, dan ini bisa bernilai baik (ahsan) dan buruk (qabih) tergantung pada sifat perbuatan itu. Kemudian Al Khuluq itu bisa dianggap baik dengan syarat memenuhi aturan-aturan agama. Sifat Al Khuluq itu tidak hanya mengacu pada pola hubungan kepada Allah, namun juga mengacu pada pola hubungan dengan sesama manusia serta makhluk lainnya.

Sedangkan pengertian akhlak secara terminologi (istilah) adalah suatu sifat yag tertanam dalam jiwa yang dari padanya tergantung perbuatan-perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Ahlak merupakan manifestasi iman, Islam, dan Ihsan yag merupakan refleksi sifat dan jiwa secara spontan yang terpola pada diri seseorang sehingga dapat melahirkan perilaku secara konsisten dan tidak tergantung pada pertimbangan berdasar interes tertentu.[2]

2. Mahasiswa

            Mahasiswa sebagai pelaku utama dan agent of exchange dalam gerakan-gerakan pembaharuan memiliki makna yaitu sekumpulan manusia intelektual, memandang segala sesuatu dengan pikiran jernih, positif, kritis yang bertanggung jawab, dan dewasa. Secara moril mahasiswa akan dituntut tangung jawab akademisnya dalam menghsilkan “buah karya” yang berguna bagi kehidupan lingkungan.

Edward Shill mengkategorikan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial yang khas.[3] Shill menyebutkan ada lima fungsi kaum intelektul, yakni mencipta dan menyebar kebudayaan tinggi menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa, membina keberdayan dan bersama mempengaruhi perubahan sosial dan memainkan peran politik.

C. Akhlak/Etika Mahasiswa terhadap Guru atau Dosen.[4]

1.  Jika menghadap guru maupun berkunjung haruslah dengan penuh hormat dan menghormati serta menyampaikan salam terhadap guru atau dosen.

2. Jangan terlalu banyak bicara dikala sedang berada di hadapan guru, lebih-lebih pembicaraan yang tiada arti atau manfaatnya.

3.  Jangan mengajak bicara guru atau dosen kecuali kalau memang diajaknya.

4.  Janganlah sekali-kali mengajukan pertanyaan sebelum terlebih dahulu meminta izin kepada sang guru atau dosen bahkan diberi kesempatan bertanya.

5.  Jangan sekali-kali menyanggah ataupun menegur ucapan guru atau dosen.

6.  Jangan memberikan isyarat kepada guru atau dosen yang isyarat itu dapat menimbulkan khilaf dengan pendapatnya.

7.  Jangan mengadakan permusyawarahan dengan teman di tempat duduk guru atau dosen, atau berbicara dengan guru atau dosen sambil tertawa.

8.  Manakala duduk di hadapan guru atau dosen hendaklah yang tenang, jangan menolah-noleh atau berpaling kesana-kemari. Hendaklah duduk tawadlu’ sebagaimana sewaktu sedang melakukan sholat.

9.  Jangan banyak bertanya sewaktu guru atau dosen kelihatan kurang berkenan atau kelihatan bosan.

10. Sewaktu guru  atau doosen berdiri hendak pergi, maka hendaklah berdiri pula  untuk memberi penghormatan.

11. Dikala guru atau dosen hendak pergi, jangan sekali-kali dihentikan hanya akan mengajukan pertanyaan.

12. Jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan kepada guru atau dosen di tengah jalan, tetapi bertanyalah di tempat yang baik, di rumah, ataupun di ruang khusus.

13. Jangan sekali-kali berprasangka jelek terhadap guru mengenai tindakannya yang kelihatan mungkar menurut pandangan murid atau mahasiswa. Sebab guru atau dosen lebih mengetahui rahasia-rahasia yang terkandung dalam tindakannya tersebut. Jika murid atau mahasiswa mengetahui hal yang seperti itu, lebih baik mengingatkannya dengan jalan seperti yang telah ditempuh oleh Nabi Musa a.s. sewaktu mengingatkan Nabi Khidhr, yaitu sebagaimana yang tersebut dalam Q.S. Al-Kahfi : 71, yang berbunyi:

http://www.ahadees.com/images/quran/arabic/18_71.gif

       Artinya: “Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?’ Sesungguhnya kamu Telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

D.   Akhlak Terhadap Sesama Mahasiswa

Dalam pergaulan sehari-hari di lingkungan kampus terutama antar mahaiswa dan mahasiswi, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus, disamping ketentuan umum tentang hubungan bersosialisasi lainnya, yaitu tentang mengucapkan dan menjawab salam, berjabat tangan, dan khalwah. Pembahasan tentang pergaulan ini berfokus pada tiga hal tersebut.

  1. Mengucapkan dan Menjawab Salam

Islam mengajarkan kepada sesama muslim untuk saling bertukar salam apabila bertemu (Q.S. An-Nisa’ 4:86) atau bertamu (Q.S. An-Nur 24:27), Supaya rasa kasih sayang sesama dapat selalu terpupuk dengan baik. Salam yang diucapkan minimal adalah “Assalamu’alaikum”. Tetapi akan lebih baik dan lebih besar pahalanya apabila diucapkan secara lebih lengkap.

Mengucapkan salam hukumnya sunat, tetapi menjawabnya wajib, minimal dengan salam yang seimbang. Bila bertemu yang terlebih dahulu mengucapkan salam adalah yang berada di atas kendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk, yang sedikit kepada yang banyak, dan yang lebih muda kepada yang lebih tua.

Salam tidak hanya diucapkan waktu saling bertemu, tetapi juga tatkala mau berpisah. Jika ada rombongan, baik yang mengucapkan maupun yang menjawab salam boleh hanya salah seorang dari anggota rombongan tersebut. Laki-laki boleh mengucapkan salam kepada perempuan dan juga sebaliknya. Salam yang diajarkan oleh Islam adalah salam yang bernilai tinggi, universal dan tidak terikat dengan waktu.

  • Berjabat Tangan

Rasulullah mengajarkan bahwa untuk lebih menyempurnakan salam dan menguatkan tali ukhuwah Islamiyah, sebaiknya ucapan salam diikuti dengan berjabatan tangan. Berjabat tangan haruslah dilakukan dengan penuh keikhlasan yang tercermin dari cara bersalama. Rasulullah telah mengajarkan kalau menjabat tangan seseorang harus dengan penuh perhatian, keramahan, dan muka yang manis. Pandanglah muka orang yang disalami, jangan bersalaman sambil memandang objek lain, karena sikap demikian akan menimbulkan perasaan tidak dihargai. Bisa-bisa yang disalami akan tersinggung. Juga jangan menarik tangan dengan cepat dan tergesa-gesa yang mengesankan kita tidak berjabatan tangan tidak dengan senang hati tapi karena terpaksa karena keadaan atau dengan perasaan yang berat.[5] Namun anjuran berjabatan tangan tidak berlaku antar lawan jenis.

  • Khalwah

Satu hal lagi yang sangat penting diperhatikan dalam pergaulan pria dan wanita, terutama antar muda mudi adalah masalah pertemuan antara pria dan wanita, terutama pertemuan-pertemuan pribadi. Rasulullah SAW melarang pria dan wanita ber khalwah, baik di tempat umum, apalagi di tempat sepi. Khalwah adalah berdua-duaan antara pria dan wanita yang tidak punya hubungan suami isteri dan tidak pula mahram tanpa ada orang ketiga.

      E. Akhlak Terhadap Lingkungan Kampus

Lingkungan kampus merupakan tanggung jawab setiap individu, maka setiap mahasiswa sepeatutnya memeliharanya. Sikap akhlak yang baik dalam lingkungan kampus misalnya untuk kelangsungan keindahan taman, siapapun tidak boleh berjalan di atas rumput, tidak boleh memetik bunga, dan lain-lain. Agar toilet tetap bersih, setip mahasiswa yang menggunakannya sepatutnya menyiram sampai bersih dan tidak meninggalkan bekas bau. Para mahasiswi sebaiknya tidak membuang pembalut bekas di lubang WC. Selain itu, penggunaan air haruslah sepenuhnya, dan kran-kran ditutup kembali setelah dipakai. Untuk menjaga keindahan kampus, setiap mahasiswa sepatutnya menempell kertas-kertas informasi pada tempat yang disediakan dan tidak mencoret-coret tembok. Dalam hal pengelolaan sampah, setiap individu sebaiknya membuang sampah pada tempat yang disediakan. Sampah kertas, bekas bungus makanan dan permen, dan plastik-plastik hendaknya dibuang pada tempat sampah. Untuk memelihara keharmonisan lingkungan kampus, setiap mahasiswa perlu bersikap aktif dan responsif, seperti merespon pembelajaran dosen dengan menyenangkan, bekerja sama dengan baik dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.[6] Pada sisi lain, untuk menjaga lingkungan luar kampus yang sehat dan aman, setiap mahasiswa sepatutnya menjaga kebersihan lingkungan kost sekitar universitas agar tidak terlihat kumuh, seperti membuang sisa-sisa makanan, ktoran, kertas, dan plastik yang sudah tidak dipakai pada tempat sampah. Untuk memelihara kebersihan sarana transportasi kota, alangkah baiknya jika para mahasiswa tidak mencoret-coret kursi dan jok bis. Untuk menjaga keamanan sekitar kost, setiap mahasiswa sepatutya pamit kepada induk semang dan mengunci pintu ketika meninggalkan kost. Juga melapor ke RT setempat dan induk semang, jika ada tamu yag menginap. Selain itu, mahasiswa sepatutnya mengikuti kerja bakti yang diadakan oleh warga kampung.

Singkatnya, kenyamanan, kebersihan, dan keamanan di dalam dan luar kampus menurut partisipasi aktif dan kepedulian setiap individu khususnya mahasiswa untuk memudahkan mencapai sukses di perguruan tinggi. Tanpa keterlibatan dan partisipasi kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan, kenyamanan dan keamanan, sukses di perguruan tinggi akan sulit untuk diwujudkan.[7]

F. Kewajiban Mahasiswa di Lingkungan Kampus

Sebagai mahasiswa yang berakhlak mulia, kita harus melaksanakan kewajiban kita sebaik-baiknya, dengan hati ikhlas dan tanpa paksaan. Dibawah ini disebutkan beberapa kewajiban Mahasiswa di lingkungan kampus:

  1. Kewajiban Umum,

Menurut Pasal 3, Mahasiswa berkewajiban :

a). Berakhlak mulia dan mengamalkan ajaran agamanya, baik di dalam maupun di luar kampus.

b). Menjaga kewajiban dan memelihara nama baik Universitas, baik di dalam maupun di luar kampus.

c). Memelihara sarana dan prasarana Universitas serta menjaga keberhasilan, ketertiban, dan keamanannya.

d).  Menaati semua ketentuan administrasi penyelenggaraan pendidikan yang dibebankan kepada mahasiswa seperti biaya sumbangan pembinaan pendidikan dan biaya lainnya yang ditentukan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

e).  Mematuhi segala peraturan yang berlaku di tingkat Universitas, Fakultas, Jurusan, Program Study, dan Unit.[8]

  • Kewajiban Khusus
  • Menurut Pasal 4, Mahasiswa berkewajiban:[9]
  • Mengikuti kuliah, praktikum dan/atau kegiatan akademik lainnya dengan disiplin, tertib, sopan, dan hoormat kepada dosen.
  • Berupaya untuk Merawat barng-barang inventaris dan turut bertanggung jawab terhadap keutuhannya.
  • Menggunakan kantor atau gudang sesuai dengan peruntukkannya, tidak untuk menginap, memasak, mencuci, da menjemur pakaian.
  • Mempertanggungjawabkan kegiatan dan/atau penggunaan dana dari Universitas atau pihak lainnya.
  • Mengganti segala pembiayaan, kerugian, dan/atau keruaskan yang timbul akibat penggunaan inventaris negara yang tidak sesuai dengan peruntukkannya.
  • Melaksanakan kewajiban sebagaimana diatur dalampasal 3 dan 4.
  • Menutup kantor organisasi kemahasiswaan pada hari Jumat pukul 11.00 s.d. 13.00 WIB.

Tidak jarang terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh mahasiswa, oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa yang berakhlak mulia harus memperhatikanya dari pelanggaran-pelanggaran ringan apalagi pelanggaran berat berusaha jangan sampai melakukannya.

  • Tata Cara Berbusana bagi Mahasiswa/Mahasiswi:[10]
  • Berpakaian sopan, bersih, dan rapi bagi Mahasiswa/ mahasiswi.
  • Berbusana muslinah yang tidak ketat dan tidak transparan bagi mahasiswi.
  • Bersepatu selama berada di kampus bagi mahasiswa/ mahasiswi.

Sedangkan tata cara berbusana yang tidak boleh bagi Mahasiswa/ mahasiswi adalah:[11]

  1. Memakai sandal
  2. Memakai sepatu yang tumitnya diinjak
  3. Memakai sepatu sandal yang tumitnya diinjak
  4. Berkaos oblong walaupun ditutup dengan jaket atau tas
  5. Bercelana sobek
  6. Berpakaian ketat khusus bagi mahasiswi
  7. Memakai busana tembus pandang
  8. Memakai baju/ lengan pendek khusus bagi mahasiswi

Pelanggaran Ringan

Dalam pasal 8, yang termasuk pelanggaran ringan adalah:[12]

  1. Melanggar tata tertib lain yag berlaku di Universitas.
  2. Memakai sandal, sepatu yang tumitnya diinjak, slop, klompen atau sejenisnya, berkaos oblong, dan/atau bercelana sobek selama di kampus.
  3. Berpakaian ketat, tembus pandang, dan/atau baju pendek bagi mahasiswi.
  4. Menggunakan telepon genggam ketika kuliah dan praktikum berlagsung.
  5. Berambut panjang dan/atau bercat yang tidak rapi, mengenakan kalung, anting, dan gelang bagi mahasiswa.
  6. Berdandan secara berlebihan bagi mahasiswi.
  7. Merokok saat mengikuti kegiatan akademik.
  8. Membuang puntung rokok atau sampah lainnya tidak pada tempatnya.
  9. Menggunakan fasilitas Universitas secara tidak bertanggung jawab yang mengakibatkan timbulnya kerugian.

Pelanggaran Sedang

Termasuk pelanggaran sedang adalah:[13]

  1. Membawa senjata tajam dan/atau senjata api.
    1. Mengundang dan/atau membawa pihak luar Universitas ke dalam kampus untuk berdemonstrasi.
    1. Mengganggu kelancaran proses belajar mengajar dan/atau kegiatan perkantoran.
    1. Bertato.
    1. Melakukan percumbuan.
    1. Berboncengan lebih dari dua orang sejenis atau berlainan jenis pada kendaraan roda dua.
    1. Melakukan provokasi dan tindakan lain yang dapat mencemarkan nama baik universitas, seseorang, golonga, ras, suku, dan/atau agama.
    1. Melakukan perkelahian dan/atau tawuran.
    1. Bartindak sebagai joki atau melakukan kecurangan dalam ujian semester atau ujian lainnya yang terkait dengan proses perkuliahan.
    1. Membuat corat-coret yang tidak pada tempatnya.          

Pelanggaran Berat

Dalam pasal 10 yang termasuk pelaggaran berat adalah:[14]

  1. Memiliki, membawa, mengedarkan, dan/atau mempergunakan narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif (NAPZA) dan/ atau obat berbahaya lainnya.
  2. Menganut dan/ atau menyebarkan aliran terlarang.
  3. Memiliki, membawa, menggandakan, meminjam, meminjamkan, menjual, dan/ atau menyewakan media pornografi.
  4. Melakukan plagiasi, membuatkan dan/atau meminta orang lain untuk membuatkan skripsi, tesis, atau disertasi.
  5. Bertindak sebagi joki dalam ujian masuk Universitas.
  6. Memalsukan nilai, tanda tangan, stempel, ijazah, dan/atau surat-surat keterangan lainnya.
  7. Mengubah data milik Universitas secara melawan hukum.
  8. Melakukan perusakan, perampasan, dan/atau pencurian barang milik Universitas.
  9. Melakukan perzinaan, kumpul kebo, pemerkosaan, homoseksual, dan/atau penyimpangan sosial lainnya.
  10. Melakukan tindak pidana yang dijatuhi hukuman penjara yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap lebih dari satu tahun.
  11. Melakukan demonstrasi yang anarkhis dan/atau tindakan kekerasan lainnya.

G. Kesimpulan

Akhlak mahasiswa harus sesuai dengan apa yang ada dalam kedua sumber  pokok agama Islam yaitu Al-Quran dan Hadits. Namun akhlak mahasiswa juga tidak terlepas dari etika dan moral yang berlaku dalam kampus. Mahasiswa sangat dianjurkan mencontohkan perilaku Nabi Muhammad saw, sehingga akhlak yang dimilikinya baik dan dapat berguna bagi bangsa dan negaranya.

            Akhlak mahasiswa terhadap dosen: menegur sapa terhadap dosen, memperhatikan pada waktu pembelajaran, dan jangan terlalu banyak bertanya. Akhlak mahasiswa terhadap sesama mahasiswa dan lingkkungan: jangan merendahkan orang lain, memberi nasihat, melapangkan ruang kelas, dan mentaati peraturan.

DAFTAR PUSTAKA

Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga, Sukses di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010

Mahali, Mudjab, Pembinaan Moral di Mata Al-Ghazali. Yogyakarta: BPFE, 1984.

Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Akhlak/Tasawuf, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010.

Suhairi Ilyas, Etika Remaja Islam, Bukittinggi: Yayasan al-Anshar, 1990

Syaikh Muhammad Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, Jakarta Selatan: Darul Qalam, 2004.

UIN Sunan Kalijaga, Tata Tertib Mahasiswa, Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2010. Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, Yogyakarta, LPPI, 2009


[1] Syaikh Muhammad Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, (Jakarta Selatan: Darul Qalam), 2004, hal. 7.

[2] Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, Akhlak/Tasawuf , (Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010), hal.4

[3] https://rohman-utm.blogspot.co.id/2015/08/etika-moral-dan-akhlak-di-kampus.html.

[4] Pembinaan Moral di Mata Al-Ghozali. 1984. Hal. 287-288

[5] Suhairi Ilyas, Etika Remaja Islam  (Bukit Tinggi: Yayasan al-Anshar, 1990), hal. 23-26

[6] Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga, Sukses di Perguruan Tinggi, hal.125

[7] Center for Teaching Staff Development (CTSD) UIN Sunan Kalijaga, Sukses di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010), hal.126

[8] UIN Sunan Kalijaga, Tata Tertib Mahasiswa, (Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2010), hal. 6

[9] Ibid., hal. 7

[10] Ibid, hal. 26

[11] UIN Sunan Kalijaga, Tata Tertib Mahasiswa…, hal. 32

[12]  Ibid, hal. 10

[13] Ibid, hal. 11

[14] Ibid, hal. 12